Turn Off Your TV

”Television is disgrace. Life you get old. It’s the race. Can you break out. Can you break out. Will you live at your own peace. Life, so, unnecassary. Television is disgrace. Life you get old. It’s the race. Can you break out. Can you break out. Will you live at your own peace. Now Will you live at your own peace?. Will you live at your own peace.” (System of a Down, “36”)

Itulah sepenggal lagu dari System of a Down, dimana di dalam lagu tersebut sangat jelas bahwa televisi merupakan suatu alat hiburan bagi orang – orang yang malas. Bahkan menurut “Lawrence  C dan Manning R, sebutan dari TV adalah “si Kotak Bodoh”, tidak semua kegiatan bersantai itu cocok untuk otak kita. Melihat TV selama berjam – jam dapat menumpulkan otak kita. Otak menjadi kurang aktif selama kita melihat TV dibandingkan ketika kita sedang tidur. Menonton TV secara terus menerus menjadikan interaksi sosial semakin mengecil dan berakibat buruk dalam jangka panjang.

Sebagian besar masyarakat, baik yang berada di perkotaan bahkan yang berada di pelosok sekalipun menjadikan televisi sebagai sarana hiburan bagi anak – anak mereka. Disini saya mengambil pengalaman selama setahun bertugas di sebuah desa pelosok yang tidak ada jaringan listrik bahkan sinyal telepon seluler. Setiap menjelang malam, setiap rumah sibuk menyalakan genset (generator rumah) untuk penerangan, dan tidak lupa juga TV harus dihidupkan sebagai sarana hiburan mereka. Di desa ini, penerangan bisa dinikmati dari pukul 18.00 – 20.00, tergantung banyaknya minyak (solar / bensin ) yang digunakan. Biasanya untuk keluarga yang berkecukupan bisa menikmati listrik hingga pukul 23.00, sampai pada jam itu juga televisi tetap nyala hingga genset dimatikan. Betapa TV telah memaksakan kosa katanya kepada anak – anak di pelosok ini, dimana kosa kata itu lahir dari kaum selebritis yang sering muncul dari berbagai iklan. Padahal anak – anak ini butuh untuk mengembangkan kosa – katanya sendiri, tapi TV telah memaksa anak – anak dan masyarakat untuk mengikuti kosa kata mereka. Dari penguasaan kosa kata inilah, kemudian berlanjut kepada penguasaan cara berfikir anak – anak yang masih polos tersebut.

Walaupun hanya menikmati siaran televisi 3 – 4  jam dalam sehari, namun efek yang di timbulkan oleh TV sangat dahsyat, apalagi bagi masyarakat yang 24 jam menikmati siaran TV. Dari efek yang ditimbulkan oleh TV, masih banyak saja yang beranggapan bahwa TV itu lebih berguna, lebih banyak informasi yang didapatkan dari TV, banyak hiburan yang bisa dinikmati dari TV, anggapan semacam itu adalah anggapan yang tidak bermutu, dan hanya orang – orang yang tidak kreatif saja yang melihat bahwa hiburan itu berasal dari TV. Yang benar adalah bahwa TV adalah hiburan bagi orang – orang yang malas, yaitu orang yang malas mencari hiburan keluar rumah. Hiburan itu bisa didapatkan dimana saja, misalnya menikmati pemandangan desa, bersosialisasi dengan tetangga, dan lain – lain. Para orang tua seharusnya lebih sering menjaga anak – anaknya dalam menikmati siaran TV, misalnya lebih sering mengajak anak keluar rumah, menikmati pemandangan, namun para orang tua malah lebih sering bersama anak – anak menikmati TV dengan suguhan acara – acara yang sangat tidak berkualitas. Para orang tua terus saja terilusi dan semakin tidak kreatif dalam memelihara dan menumbuhkembangkan anak – anak, kecuali dengan cara yang di doktrinkan oleh acara – acara TV melalui iklan – iklannya. Para orang tua tak lagi mau menasehati anak – anak untuk diarahkan ke hal – hal yang kreatif, bahkan tak punya nasehat sama sekali, lalu diserahkannya anak – anak yang masih polos tersebut pada TV untuk dibimbing menjadi generasi yang instan.

Dengan banyaknya masalah – masalah yang ditimbulkan oleh TV, maka mulai sekarang mari kita bersama menjaga dan mengarahkan anak – anak ke arah yang lebih kreatif, dengan slogan “Matikan TV-mu, Nyalakan Lilin”. Maksud dari slogan tersebut bukan untuk menyalakan lilin di masing – masing rumah, namun nyalakan lilin lebih dimaksudkan untuk mengarahkan anak – anak tersebut ke arah yang lebih kreatif dalam mengembangkan imajinasi mereka. Para orang tua harus lebih banyak memproteksi siaran – siaran TV yang tidak berkualitas, bahkan hal yang lebih baik dengan mematikan TV tersebut. Menyalakan lilin di tengah belenggu acara TV, merupakan solusi konkrit dari berbagai permasalahan yang terjadi pada generasi muda kita, sehingga mereka tidak lagi menjadi generasi yang instan, atau generasi TV, namun bisa menjadi generasi kreatif yang bisa bermanfaat bagi desa, bangsa, maupun negara.

Advertisements